Minggu, 21 Desember 2014

Hujan dan Aku
Aku menyukai hujan, karena hanya hujan yang dapat menutupi kesedihanku. 1000 orang yang lewat di sampingku takkan pernah tau saat itu aku menangis. Bagaimana tidak aku menangis? Aku berusaha untuk menjadi yang terbaik, namun tak ada orang yang menghargaiku bahkan tak ingin tau.
Hujan semakin deras, hatiku semakin bergetar, air mataku terus berjatuhan, aku hanya butuh tangga kebahagiaanku. Aku memilih melihat orang yang ku sayang bahagia dan tersenyum meski mereka tak perduli aku ada di sekitarnya. Apakah mereka menangis bila aku pergi? Aku selalu bertanya-tanya tentang itu.
Mati-matian aku membuktikan bahwa aku ingin jadi diriku sendiri, aku ingin sukses bukan karena ingin menyamakan dengan orang lain. Namun, aku lebih bangga bila aku sukses dengan caraku. Aku sudah tau banyak dan mengetahui banyak tentang inspirasi. Mengapa hanya hujan yang tau saat aku berteriak?
Pantai yang indah, airnya tenang. Aku belajar dari air, dimana ia terus mengalir walau entah kemana dia terus berusaha untuk mencapai tempat yang tenang dan indah. Dimana aku terus berjalan, aku harus menemui kebahagiaan yang sebenarnya. Walau ke ujung dunia. Aku tak perduli siapa yang mencariku, aku lelah mencari mereka saat aku butuh. Dan aku lelah menangis, aku lelah di singkirkan bahkan aku lelah mereka sakiti. Karena aku rapuh, karena mereka aku jera.
Aku selalu belajar dari hujan, dimana mereka tak menetahui saat aku menangis. Mereka selalu buatku iri akan kehidupan mereka yang bahagia dan harmonis. Dimana hatiku selalu berteriak namun mengapa aku selalu menahannya. Engkau ajarkan aku tentang kesabaran, namun engkau yang menghabiskan kesabaranku. Sampai kapan engkau selalu membandingkan aku dengan orang lain. Aku ini bagian hidupmu, bukan barang mahalmu yang kau bandingkan dengan barang mahal teman-temanmu.
Aku memang bukan manusia yang sempurna, aku memang bodoh, namun engkau tak pernah memikirkan perasaanku, kau selalu mendoronglu ke depan agar kau dapat menutupi imagemu. Namun aku hanya menutupi segala kekuranganku dengan hujan. Dimana orang takkan pernah tau apa yang kurasakan. Bila aku sudah mencapai kebahagiaan, apa aku juga harus mempertimbangkanmu untuk masuk ke duniaku untuk menikmatinya, seperti kau mempertimbangkan aku untuk menutupi kekuranganmu dengan itu aku direndahkan.

Tak sadarkah kau? Aku menangis di dalam kegelapan dan kau tak mencariku. Setiap perkataan kau yang membuatku sakit, saat itu kesabaranku di uji. Namun kau hanya menilaiku dari luarku, padahal aku hidup denganmu. Tak sadarkah kau? Aku akan bahagia dimana engkau akan menarik kata-katamu. Dimana juga engkau menundukkan kepala dan menutup mulutmu dan menangis di depanku? Haruskah aku perduli? Padahal dulu kau membiarkan aku menangis karenamu. Aku harus membanggakan engkau, dimana kau selalu menjatuhkan aku di depan orang lain. Akan ku ucapkan “terima kasih atas segalanya, karena engkau aku bisa seperti ini, karena engkau juga kau bisa sadari bahwa roda hidup akan terus berputar.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar